Program Kerja Kabinet Ali Sastroamidjojo 2

Program Kerja Kabinet Ali Sastroamidjojo 2 – 2 DEMOKRASI LIBERAL Demokrasi liberal adalah negara politik yang secara konstitusional melindungi hak-hak individu dari kekuasaan pemerintah. Ciri-ciri demokrasi liberal: presiden dan wakil presiden tidak dapat diganggu gugat. Menteri bertanggung jawab atas kebijakan pemerintah. Presiden memiliki kekuasaan untuk membubarkan DPR. Perdana menteri diangkat oleh presiden.

4 1. Kabinet Natsir Kabinet ini merupakan kabinet koalisi yang dipimpin oleh Partai Masyumi. Perdana Menteri: Mohammad Natsir (Partai Masyumi). Tanggal Peresmian: 07 September 1951 Tokoh Terkenal Kabinet: Sri Sultan Hamengkubuwono IX Bpk. Asat Ir. Juanda Prof.Dr.Soemitri Djojohadikoesoemo

Program Kerja Kabinet Ali Sastroamidjojo 2

5 Program: Persiapan dan penyelenggaraan pemilihan umum Majelis Konstituante. Ia mencapai pemantapan dan penyempurnaan struktur pemerintahan, serta pembentukan aparatur negara yang kuat dan berdaulat. Mengaktifkan upaya untuk keamanan dan perdamaian. Meningkatkan organisasi ABRI dan pemulihan mantan militer dan gerilyawan di masyarakat. Perjuangkan solusi untuk masalah Iria Barat secepat mungkin. Mengembangkan dan memperkokoh kesatuan ekonomi kerakyatan sebagai dasar penyelenggaraan perekonomian nasional yang sehat. Membantu pembangunan perumahan rakyat dan meningkatkan upaya – upaya peningkatan kesehatan dan kecerdasan masyarakat. Pelaksanaan program industrialisasi (Plan Sumitro). Pembentukan DPRD.

Bj Habibie Raih Rooseeno Award

6 Hasil: Di bidang ekonomi, ada Sumitro Plan yang mengubah ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional. Indonesia bergabung dengan PBB. Perundingan masalah Iria Barat untuk pertama kalinya terjadi antara Indonesia dan Belanda. Kegagalan: Kegagalan Kabinet untuk menyelesaikan masalah Irian Barat. Adanya mosi kecaman dari PNI terkait pencabutan peraturan pemerintah tentang DPRD dan DPRDS, mosi tersebut disetujui oleh parlemen untuk mengembalikan mandat kabinet kepada Presiden.

7 2. Kabinet Sukiman Kabinet ini merupakan kabinet koalisi antara Partai Masyumi dan Partai PNI. Perdana Menteri: Sukiman Wiryosanjoyo (Partai Masyumi). Tanggal peresmian: 27 April 1952 Program: Menjamin keamanan dan kedamaian. Perjuangan untuk kemakmuran rakyat dan reformasi hukum pertanahan untuk memenuhi kepentingan kaum tani. Mempercepat persiapan pemilihan umum. Melaksanakan politik luar negeri secara bebas dan aktif serta memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah NKRI secepat-cepatnya.

8 Keberhasilan: Terjadi pergeseran skala prioritas pelaksanaan program dari program “Enabling Security and Peace” menjadi prioritas untuk menjamin keamanan dan perdamaian. Kegagalan: Ada tentangan dari Masyumi dan PNI terhadap tindakan Sukiman, sehingga mereka mencabut dukungannya terhadap kabinet. DPO menggugat Sukiman dan Sukiman terpaksa menyerahkan kembali mandatnya kepada presiden.

9 3. Perdana Menteri Kabinet Wilopo: Tuan Wilopo Tanggal Pelantikan: 3 April 1952 – 3 Juni 1953 Program: Program dalam negeri: Menyelenggarakan pemilihan umum (DPR, DPR dan DPRD), Meningkatkan kesejahteraan rakyat, Meningkatkan pendidikan rakyat dan memulihkan keamanan . Program luar negeri: menyelesaikan masalah hubungan Indonesia-Belanda, mengembalikan Irian Barat ke dalam rahim Indonesia, dan menjalankan politik luar negeri yang aktif dan bebas.

Orde Lama: 7 Nama Kabinet Yang Menjabat Pada Masa Demokrasi Parlementer

10 pukulan: – Kegagalan: Pasca peristiwa Tanjung Morawa, Serikat Tani Indonesia melakukan mosi tidak percaya terhadap kabinet Wilopo. Sehingga Wilopo harus menyerahkan kembali mandatnya kepada presiden.

Kabinet ini merupakan koalisi antara PNI dan PBB. Perdana Menteri: Mr. Ali Sastroamidjojo Tanggal Pelantikan: 31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955. Program: Peningkatan keamanan dan kesejahteraan, dan segera diselenggarakannya pemilihan umum. Bebaskan Irian Barat segera. Implementasi kebijakan bebas aktif dan review perjanjian KMB. Penyelesaian sengketa politik.

12 Sukses: Persiapan Pemilihan Umum untuk memilih Anggota Parlemen yang akan diadakan pada tanggal 29 September 1955. Penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955. Kegagalan: NOT menarik dukungannya dan para menteri Kabinet, maka perpecahan dalam kabinetnya terpaksa terjadi pada Ali untuk mengembalikan amanat presiden.

Perdana Menteri: Burhanuddin Harahap Tanggal Pelantikan: 12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956 Program: Pemulihan wibawa pemerintahan, yaitu pemulihan kepercayaan militer dan masyarakat terhadap pemerintah. Selenggarakan pemilihan umum sesuai jadwal dan percepat pembentukan parlemen baru. Masalah desentralisasi, inflasi, pemberantasan korupsi. Perjuangan untuk kembalinya Irian Barat. Kebijakan kerja sama Afro-Asia didasarkan pada politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Kabinet Dwikora I

14 Sukses: pemilu demokratis pertama diadakan pada 29 September 1955 (pemilihan anggota DPR) dan 15 Desember 1955 (pemilihan konstituante). 70 partai politik terdaftar, tetapi hanya 27 yang lolos seleksi. Ini menghasilkan 4 partai politik besar yang memperoleh suara terbanyak, yaitu PNI, NU, Masyumi dan PKI. Perjuangan Diplomatik Selesaikan masalah Iria Barat dengan membubarkan Uni Indonesia-Belanda. Pemberantasan korupsi dengan menangkap pejabat tinggi dilakukan oleh polisi militer. Hubungan terjalin antara tentara dan kabinet Burhanuddin. Selesaikan persoalan peristiwa 27 Juni 1955 dengan mengangkat Kolonel AH Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat pada 28 Oktober 1955. Kegagalan: Dengan selesainya pemilihan, tugas kabinet Burhanuddin dianggap selesai. Pemilihan tidak menghasilkan dukungan yang cukup untuk kabinet sehingga kabinet jatuh.

Kabinet ini merupakan hasil koalisi 3 partai: PNI, Masyumi dan NU. Perdana Menteri: Ali Sastroamidjojo Tanggal Peresmian: 20 Maret 1956 – 4 Maret 1957 Program yang disebut “Rencana Pembangunan Lima Tahun”: Perjuangan untuk mengembalikan Irian Barat. Pembentukan daerah otonom dan percepatan pembentukan anggota DPRD. Mencoba untuk meningkatkan banyak pekerja dan karyawan. Memperbaiki neraca keuangan negara. Melaksanakan perubahan dari ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional yang berlandaskan kepentingan rakyat. Program utama: Batalkan KMB. Pemulihan keamanan dan ketertiban, lima tahun pembangunan, menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif. Jalankan keputusan AAC.

16 Sukses : Mendapat dukungan penuh dari presiden dan dianggap sebagai titik awal masa perencanaan dan investasi, hasilnya adalah batalnya semua perjanjian KMB. Kegagalan: Mundurnya sejumlah menteri Masyumi menyebabkan kabinet hasil pemilu pertama tumbang dan mandat beralih ke presiden.

17 7. Kabinet Djuanda Kabinet ini adalah kabinet zaken (kabinet yang terdiri dari para ahli yang ahli di bidangnya). Lahir dari ketidakmampuan konstituen menyusun UUD pengganti UUD 1950 dan munculnya perebutan kekuasaan antar partai politik. Perdana Menteri : Ir. Djuanda Tanggal pelantikan: 9 April 1959 Juli 1959 Program yang disebut “Panca Karya”: membentuk Dewan Nasional. Normalisasi negara Republik Indonesia. Percepatan pelaksanaan pembatalan KMB. Perjuangan untuk kembalinya Irian Jaya. Mempercepat/mempercepat proses pembangunan.

Sejarah Kabinet Ali Sastroamijoyo Ii: Program Kerja & Kejatuhannya

18 Sukses: menata kembali batas-batas perairan nasional Indonesia melalui Deklarasi Djuanda, yang mengatur laut dalam dan laut teritorial. Terbentuknya Dewan Nasional sebagai badan yang bertujuan menampung dan menyalurkan pertumbuhan kekuasaan dalam masyarakat dengan Presiden sebagai Presiden. Sebagai titik awal untuk mendukung sistem demokrasi langsung. Menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) untuk meredakan keresahan di berbagai daerah. Konferensi pembangunan nasional diadakan untuk mengatasi krisis dalam negeri, tetapi tidak berjalan dengan baik. Kegagalan : Berakhir ketika Presiden Sukarno mengeluarkan dekrit presiden pada tanggal 5 Juli 1959 dan babak baru dalam sejarah Indonesia dimulai, yaitu demokrasi terpimpin.

Setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, bangsa Indonesia memikul beban ekonomi dan keuangan yang direncanakan oleh KMB. Beban itu berupa utang luar negeri Rp 1,5 triliun dan utang dalam negeri Rp 2,8 triliun. Defisit yang saat itu harus ditanggung pemerintah sebesar 5,1 miliar. Indonesia hanya mengandalkan satu jenis ekspor yaitu produk pertanian yaitu pertanian dan perkebunan, sehingga jika permintaan ekspor dari sektor tersebut menurun maka akan mempengaruhi perekonomian Indonesia. Kebijakan keuangan pemerintah Indonesia tidak dibuat di Indonesia tetapi dirancang oleh Belanda. Pemerintah Belanda tidak mewarisi nilai yang cukup untuk mengubah sistem ekonomi kolonial menjadi sistem ekonomi nasional. Anda tidak memiliki pengalaman untuk menjalankan ekonomi dengan baik, Anda tidak memiliki ahli yang diperlukan dan dana yang memadai. Situasi keamanan dalam negeri tidak kondusif karena banyaknya pemberontakan dan gerakan separatis di berbagai daerah di Indonesia. Ketidakstabilan situasi politik internal telah menyebabkan peningkatan pengeluaran publik untuk operasi keamanan. Mengganti loker terlalu sering berarti bahwa program loker yang direncanakan tidak diterapkan saat program baru sedang dirancang. Tingkat pertumbuhan penduduk yang besar.

1. Syafruddin Gunting Kebijakan ini anti pencucian uang. Caranya adalah dengan memotong semua uang senilai Rp. 2,50 ke atas hingga nilainya menjadi setengahnya. Kebijakan ini dilakukan Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara pada masa pemerintahan RIS. Tindakan ini diambil pada tanggal 20 Maret 1950 berdasarkan Keputusan Menteri no. 1 PU tanggal 19 Maret 1950. Tujuannya untuk mengatasi defisit anggaran sebesar Rp. 5,1 miliar. Dampaknya rakyat biasa tidak dirugikan karena mereka yang punya uang Rp. 2,50 ke atas hanya orang kelas menengah ke atas. Kebijakan ini mengurangi jumlah uang yang beredar dan pemerintah mendapat kepercayaan dari pemerintah Belanda dengan mendapatkan pinjaman sebesar Rp. 200 juta.

Sistem ekonomi gerakan Benteng merupakan upaya pemerintah Republik Indonesia untuk mengubah struktur ekonomi sepihak yang dicapai pada masa kabinet Natsir, yang direncanakan oleh Sumitro Joyohadikusumo (Menteri Perdagangan). Program ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional (pembangunan ekonomi Indonesia). Program: Menumbuhkan Kelas Wirausaha di Bangsa Indonesia. Pengusaha Indonesia dengan modal kecil harus diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional. Pengusaha Indonesia yang miskin modal perlu dibimbing dan dibantu dengan kredit. Pengusaha pribumi diharapkan secara bertahap bertransformasi menjadi pengusaha maju. Gagasan Sumitro diwujudkan dalam program Kabinet Natsir dan program Gerakan Benteng yang dimulai pada bulan April, sehingga selama 3 tahun ( ) sekitar 700 perusahaan Indonesia telah mendapatkan bantuan kredit dari program ini. Namun tujuan dari program ini tidak dapat tercapai dengan baik, bahkan ketika beban keuangan pemerintah semakin meningkat. Kegagalan program ini karena: Pengusaha pribumi kalah bersaing dengan pengusaha non pribumi dalam sistem ekonomi liberal. Pengusaha pribumi memiliki mentalitas konsumtif. Pengusaha pribumi sangat bergantung pada pemerintah. Pengusaha kurang mandiri untuk mengembangkan usahanya. Pengusaha ingin mendapat untung besar dengan cepat dan menikmati gaya hidup mewah. Pengusaha menyalahgunakan kebijakan dengan mencari keuntungan cepat dari kredit yang mereka dapatkan.

Dinamika Persatuan Dan Kesatuan Dalam Konteks Negara Republik Indonesia

Dampak dari program ini adalah sumber kekurangan keuangan. Pengeluaran defisit anggaran pada tahun 1952 berjumlah $3 miliar

Program kerja kabinet pembangunan, program kerja kabinet wilopo, kabinet ali sastroamidjojo 2, program ali baba, kabinet ali sastroamidjojo 1, program kerja kabinet ali sastroamijoyo 2, program kerja kabinet natsir, program kerja kabinet, ali sastroamidjojo, program kerja kabinet ali sastroamidjojo 2, kabinet ali baba, program kerja kabinet sukiman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *