Candi Yang Bercorak Budha Di Indonesia

Candi Yang Bercorak Budha Di Indonesia – Candi adalah sebuah istilah di Indonesia yang mengacu pada bangunan keagamaan, tempat peribadatan, peninggalan kuno yang berasal dari kebudayaan Hindu-Buddha.

Bangunan ini digunakan sebagai tempat peribadatan tradisional, pemujaan terhadap dewa dan dewi, penghormatan kepada leluhur atau pemujaan terhadap Buddha. Namun kata “candi” tidak hanya digunakan masyarakat untuk menyebut tempat ibadah, banyak pula tempat-tempat kuno non-religius dari masa Indonesia-Buddha, seperti keraton (keraton), pemandian (petirtaan), pintu. , dll. , disebut kuil.

Candi Yang Bercorak Budha Di Indonesia

Oleh karena itu, arsitekturnya dihiasi dengan berbagai jenis patung dan ukiran dalam bentuk desain dekoratif yang sesuai dengan sifat Gunung Mahameru.

Candi Kalasan Berlapis Dinding Putih Dengan Ukiran Indah

Candi dan pesan-pesan yang disampaikan melalui struktur, pahatan, dan patungnya tidak lepas dari unsur spiritualitas, kreativitas, dan keahlian para penciptanya.

Banyak candi seperti candi Borobudur dan Prambanan yang dibangun dengan sangat indah, detail, kaya akan dekorasi yang indah, dengan cita rasa estetika yang indah, menggunakan teknologi khusus pada masanya. Bangunan-bangunan ini masih membuktikan tingginya budaya dan tradisi nenek moyang bangsa Indonesia.

Kata sandi[sunting | Sunting sumber] “Antara abad ke-7 dan ke-15 M, ratusan gereja dibangun dari batu bata merah atau andesit di pulau Jawa, Sumatra, dan Bali. Bangunan-bangunan ini disebut candi. pintu, bahkan pemandian, tapi pameran utamanya tetap a masjid suci.” — Soekmono, R. “Ringan: Tanda-Tanda Alam Semesta.” [5]

Istilah “Candi” konon berasal dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu jenazah Dewi Durga yang merupakan dewi kematian.

Candi Mendut (temple) (indonesia)

Oleh karena itu, candi sering dikaitkan dengan perayaan dimana Pedharmaan digunakan untuk menghormati raja setelah kematian (almarhum), misalnya candi Kal untuk memuji Raja Anusapati.

Informasi yang berkembang di luar negeri – terutama di kalangan penutur bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya – adalah: Kata candi hanyalah bangunan peninggalan masa Hindu-Buddha yang ada di Indonesia, namun dalam bahasa Melayu disebut candi. Demikian pula kata wat dikaitkan dengan kuil di Kamboja dan Thailand. Namun dalam perspektif Indonesia, kata “candi” juga merujuk pada semua bangunan bersejarah Hindu-Buddha di seluruh dunia. tidak hanya nusantara, tapi juga Kamboja, Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, Sri Lanka, India, dan Nepal. seperti kuil Angkor Wat di Kamboja dan kuil Khajuraho di India. Kata candi mirip dengan kata chedi dalam bahasa Thailand yang berarti “stupa”.

Di Indonesia, candi-candi terletak di pulau Jawa, Bali, Sumatera dan Kalimantan, namun sebagian besar candi terletak di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kebanyakan masyarakat Indonesia mengetahui candi-candi terkenal di Indonesia seperti Borobudur, Prambanan dan Mendut.

Suatu masa dalam sejarah Indonesia, yang disebut abad ke-8 hingga ke-10, tercatat sebagai masa paling produktif dalam pembangunan candi. Pada masa Dinasti Medang Mataram, candi-candi besar dan kecil memenuhi dataran Kedu dan Kewu di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hanya negara dengan kekayaan yang cukup serta pangan dan sandang yang cukup yang dapat menghasilkan contoh arsitektur yang bernilai tinggi. Beberapa candi Hindu yang ada di Indonesia adalah Candi Prambanan, Candi Jajaghu (Candi Jago), Candi Gedongsongo, Candi Dieng, Candi Panataran, Candi Angin, Candi Selogrio, Candi Pringapus, Candi Singhasari dan Candi Cal.

Menilik Pesona Candi Mendut

Kebanyakan candi-candi yang terdapat di Indonesia tidak mengetahui nama aslinya. Konsensus dalam dunia penelitian adalah bahwa nama candi didasarkan pada nama desa tempat ditemukannya candi tersebut. Candi-candi yang telah lama dikenal masyarakat umum terkadang disertai dengan legenda-legenda yang dikaitkan dengannya. Selain itu, terdapat informasi yang ditemukan atau mungkin disebutkan dalam tulisan-tulisan kuno yang konon merujuk pada candi ini. Akibatnya nama candi bisa saja berbeda, misalnya Candi Prambanan, Candi Rara Jonggrang, dan Candi Siwagrha merujuk pada candi yang sama. Prambanan adalah nama desa tempat candi ini berada. Rara Jonggrang merupakan legenda rakyat yang dikaitkan dengan candi ini. Sedangkan Siwagrha (Sansekerta: “rumah Siwa”) adalah nama rumah suci yang dipersembahkan kepada Siwa yang disebutkan dalam prasasti Siwagrha dan disebutkan dalam candi yang sama. Di bawah ini adalah beberapa candi yang dapat dikenali dari nama aslinya:

Jenis dan Fungsi [sunting | sunting sumber ] Jenis berdasarkan agama [ sunting | edit sumber]

Menurut latar belakang agamanya, candi dapat dibedakan menjadi candi Hindu, candi Budha, candi gabungan Siwa-Buddha, atau bangunan yang bersifat keagamaan yang samar-samar, dan mungkin bukan bangunan keagamaan sama sekali.

Berdasarkan ukuran, kerumitan dan keindahannya, candi dibagi menjadi beberapa kelas, mulai dari candi terpenting, yang seringkali paling indah, hingga candi sederhana. Berdasarkan skala kepentingan atau tujuannya, candi dibedakan menjadi:

Napak Tilas Warisan Budaya Candi Singasari

Beberapa bangunan kuno, seperti pondasi berdopo berumpak, tembok dan gapura, serta bangunan lain yang bukan candi sering disalahartikan sebagai candi. Rumah seperti ini biasanya terdapat di kawasan Trowulan, atau paseban atau pendopo di kompleks Ratu Boko yang bukan merupakan bangunan keagamaan.

Pembangunan candi dilakukan berdasarkan banyak ketentuan yang terdapat dalam kitab Vastusastra atau Silpasastra yang dibuat oleh para silpin yaitu arsitek yang membangun candi (arsitek kuno). Salah satu bagian dari kitab Vastusastra adalah Manasara yang berasal dari India Selatan, yang berisi tidak hanya petunjuk pembangunan candi dan seluruh bagiannya, tetapi juga jeleknya arsitektur, bentuk kota, desa, benteng, penempatan candi. di kota-kota. dan desa. .

Buku-buku ini juga memberikan petunjuk mengenai pemilihan lokasi di mana candi akan dibangun. Hal ini berkaitan dengan pendanaan candi, karena biasanya tanah semen direncanakan untuk pemeliharaan candi, tanah milik pribadi bebas pajak, dan pendapatan hasil panen padi direncanakan untuk pembangunan dan pemeliharaan candi. . Beberapa tulisan menyebutkan hubungan bangunan suci dengan bumi beton ini. Selain itu, pembangunan struktur candi juga sering mempertimbangkan kondisi alam semesta (astrologi).

Banyak ketentuan kitab yang berbeda dengan Manasara, namun yang terpenting di Indonesia adalah perlunya membangun bangunan suci di dekat air atau sungai, terutama di dekat pertemuan dua sungai, danau, laut, kalaupun bukan sesuatu yang istimewa. sebuah kolam atau kendi berisi air hendaknya dibuat di dekat pintu rumah suci. Selain di dekat perairan, tempat terbaik untuk membangun candi adalah di atas bukit, gunung, hutan, atau lembah. Seperti kita ketahui, candi biasanya dibangun di dekat sungai, bahkan Candi Borobudur terletak di dekat pertemuan sungai Elo dan Progo. Saat ini Candi Prambanan terletak di dekat Sungai Opak. Sebaran candi di Jawa Tengah terutama tersebar di daerah subur Kedu dan Kewu.

Asrama Para Biksu Di Candi Sari Ini Patut Kamu Kunjungi Saat Ke J

Banyak bangunan candi yang meniru tempat tinggal para dewa sebenarnya, Gunung Mahameru. Oleh karena itu, modelnya dihiasi dengan berbagai macam ukiran dan ukiran berupa pola yang menunjukkan sifat Gunung Mahameru.

Peninggalan-peninggalan kuno seperti bangunan candi, arca, kitab suci, dan pahatan seringkali memperlihatkan sifat kebudayaan Indonesia yang diliputi unsur Hindu-Budha.

Artinya, bentuk candi yang ada di Indonesia adalah punden berundak, yang mana punden berundak sendiri merupakan unsur asli Indonesia.

Bangunan candi ada yang berdiri sendiri, ada pula yang berkelompok. Ada dua proses penggabungan atau pengorganisasian komunitas kuil, yaitu:

Candi Di Indonesia

Bahan bangunan yang digunakan untuk membangun candi tergantung pada lokasi dan ketersediaan bahan bangunan serta teknologi masyarakat pendukungnya. Candi-candi di Jawa Tengah menggunakan batu andesit, sedangkan candi-candi pada masa Majapahit di Jawa Timur sering menggunakan batu bata merah. Begitu pula candi-candi di Sumatera seperti Biaro Bahal, Muaro Jambi, dan Muara Takus yang terbuat dari batu bata merah. Bahan-bahan untuk membangun candi antara lain:

Soekmono, seorang peneliti ternama di Indonesia, mengakui perbedaan gaya arsitektur (langgam) antara candi-candi di Jawa Tengah dan candi-candi di Jawa Timur. Corak Jawa Tengah biasanya candi yang berdiri sebelum tahun 1000 Masehi, sedangkan corak Jawa Timur biasanya candi yang berdiri setelah tahun 1000 Masehi. Candi-candi di Sumatera dan Bali karena kemiripannya dipadukan dalam gaya Jawa Timur.

Atapnya satu tingkat. Banyak langkah kecil menciptakan atap datar yang mulus. Atap ini menciptakan ilusi pemandangan sehingga membuat rumah tampak lebih tinggi

Gaya Kala-Makara? Kepala dan mulut Kala yang tidak memiliki rahang berada di atas pintu, terhubung dengan dua Makare di kedua sisi pintu.

Kliping Candi Hindu Dan Budha

Langkah-langkahnya sederhana, biasanya terdiri dari bagian kaki kecil dan bagian kaki besar. Peralihan antara kaki dan badan jelas membentuk jembatan yang mengelilingi badan candi

Terdapat beberapa anak tangga lagi, termasuk beberapa bagian batur-batur yang menjadi dasar candi yang memberikan ilusi pemandangan sehingga bangunan tampak lebih tinggi. Peralihan antara kaki dan badan lebih mulus dan jembatan yang mengelilingi badan candi lebih sempit.

Mandala konsentris, simetris, formal. dengan candi induk berdiri tepat di tengah-tengah halaman kompleks candi, dikelilingi oleh deretan candi-candi kecil yang berjajar rapi.

Linear, asimetris, mengikuti topografi (ketinggian penampang) tapak. dengan candi induk berada di belakang, lebih jauh dari pintu masuk dan biasanya berada di dataran tinggi candi, maka candi perwara terletak di depan candi induk.

Mataram Kuno, Kerajaan Toleransi Bercorak Hindu Buddha

Namun, ada banyak pengecualian pada klasifikasi gaya candi ini. Misalnya saja candi Penataran, Jawi, Jago, Kal, dan Singhasari yang jelas termasuk golongan Jawa Timur, namun bahan bangunannya adalah batu andesit, mirip dengan ciri-ciri Candi Jawa Tengah. dibandingkan dengan hancurnya candi Trowulan seperti candi Brahu, serta candi-candi Majapahit lainnya seperti candi Jabung dan candi Pari yang terbuat dari batu bata merah. Bentuk candi Prambanan melengkung mirip candi Jawa Timur, namun tata letak dan bentuk atapnya bergaya Jawa Tengah. Letak suatu candi juga tidak menentukan coraknya, misalnya Candi Badut terletak di Malang, Jawa Timur, namun candi ini bergaya Jawa Tengah yang berasal dari periode akhir abad ke-8 TA.

Bahkan dalam kategori Gaya Jawa terdapat perbedaan yang mencolok dan terbagi antara gaya Jawa Tengah Utara (misalnya kategori Candi Dieng) dan gaya Jawa Tengah Selatan.

Contoh candi bercorak budha, peninggalan sejarah bercorak budha di indonesia, candi bercorak budha di indonesia, candi di indonesia yang bercorak budha, kerajaan yang bercorak budha di indonesia, candi yang bercorak agama budha, candi bercorak budha di jawa tengah, nama kerajaan bercorak budha di indonesia, kerajaan bercorak budha di indonesia, candi yang bercorak budha adalah, candi yang bercorak budha, candi bercorak budha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *