Artikel Koran Kompas Tentang Pendidikan

Artikel Koran Kompas Tentang Pendidikan – You are here: Home 1 / Artikel Koran 2 / Gambar 3 / Alvian Wardhana_Majukan Pendidikan Anak Kompas.6 Februari 2021.Str.1…

Saat saya melihat anak-anak di desa Kunyit di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, banyak di antara mereka yang belum bisa membaca dan berhitung. Alvian Wardhana (19) terpaksa menjadi tutor tak berbayar. Ini mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran berdasarkan kebutuhan dan karakteristik anak-anak.

Artikel Koran Kompas Tentang Pendidikan

Bersama teman-temannya, Alvian mendirikan komunitas Literasi Anak Banua. Sejak dibentuk pada tahun 2017, komunitas ini telah menjangkau 14 desa di Kalimantan Selatan. Anak-anak yang dulu mengalami kesulitan belajar kini mengalami kemajuan dalam pendidikannya. Kegiatan literasi anak Banua telah dipublikasikan dan dipromosikan oleh ASEAN Youth Forum dalam “Yuwana Zine 3 Days of Activism”. Program ini terdaftar di antara 100 pelamar teratas di dunia oleh Friend for Leadership dan diterbitkan oleh State of Youth. Atas kepedulian dan komitmennya dalam memajukan pendidikan di lingkungan tempat tinggalnya, Alvian terpilih sebagai kandidat Ashoka Young Changemaker 2021.

Opini Prof. Badri Munir Sukoco: Berlomba Melahirkan Perusahaan

“Saya pernah datang ke Desa Kunyit dan menemukan bahwa anak-anak kelas 3 SD tidak bisa membaca dan memahami instruksi permainan sederhana. Terkejut saya,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (2 April 2021).

Bersama lima temannya, Alvian membangun rumah bimbingan belajar dan ruang baca gratis di Desa Kunyit agar anak-anak bisa lebih cepat mempelajari mata pelajaran sekolah. Idenya sederhana dan mudah diterapkan, ternyata tidak berhasil di lapangan. Itu harus bersaing dengan situs lain yang merasa bahwa les gratis dapat mengganggu bisnis mereka. Alvian dinilai masih terlalu muda untuk melakukan kegiatan tersebut.

Dengan tekad yang kuat, pemuda yang kini kuliah di Jurusan Tata Kota dan Tata Wilayah Universitas Brawijaya Malang ini mencoba meyakinkan pihak terkait. Dia pergi ke orang tua anak-anak itu satu per satu, meminta dukungan.

Orang tua yang setuju untuk membantu Alvian, mendekati kepala desa dan pemuka agama. “Kami juga berusaha agar Alquran bisa dibaca

Kompas (surat Kabar)

Dari awal hanya membantu satu desa, kegiatannya diperluas menjadi enam desa, dan akhirnya menjadi empat belas desa. Dia membawa teman sekelas dan teman dari sekolah ke organisasi untuk membuka bimbingan belajar gratis untuk anak-anak. Desa-desa yang dipilih sebagian besar terletak di daerah terpencil dengan kondisi pendidikan yang tidak merata.

Alvian menjelaskan, tidak semua anak memiliki kemampuan memahami topik yang sama. Selain itu, anak-anak di pedesaan menghadapi tantangan belajar yang semakin kompleks, seperti terkait lokasi dan fasilitas pendidikan. Untuk itu dalam memberikan bimbingan belajar disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak.

Sebelum kelas dimulai, anak-anak diminta menyelesaikan tes untuk menilai kemampuan mereka mempelajari mata pelajaran seperti matematika dan sains. Anak-anak kemudian ditanya proses pembelajaran seperti apa yang mereka sukai. Beberapa anak tampaknya lebih mudah mempelajari materi melalui sarana visual dan pendengaran. Beberapa anak lain belajar lebih mudah melalui gerakan dan permainan.

Guru membagikan materi sesuai dengan kebutuhan mereka. Bagi anak yang lebih menyukai penglihatan dan suara, topik disampaikan dalam bentuk video atau melalui gambar dan foto. Guru juga sering melakukan permainan atau gerakan boneka untuk anak yang lebih menyukai kegiatan gerak.

Surplus Neraca Perdagangan Menguat. Kompas. 16 Desember 2021. Hal. 9

Metode pengajaran ini juga menjadi jawaban mengapa anak-anak dari daerah terpencil tidak menguasai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. “Anak-anak memiliki kemampuan yang berbeda untuk menangkap benda. Di sekolah, kemampuan anak digeneralisasikan. Cara belajarnya juga disamaratakan, sehingga ada anak yang bisa menguasai materi, ada yang tidak, ujarnya.

Dijelaskannya, struktur dan keterampilan guru di pedesaan dan perkotaan juga berbeda. Hal ini menyebabkan kesenjangan pendidikan di sekolah. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Alvian mencoba menjadi partner belajar bagi sang anak. Kelas biasanya dimulai dengan kelas besar. Selain itu, anak-anak dikelompokkan menurut materi dan metode pembelajarannya.

Dengan metode ini, kemampuan anak untuk memahami topik ditingkatkan. Selain itu, pembelajaran yang dibagikan dalam kelompok juga membangun karakter dalam kehidupan anak, seperti kerjasama, gotong royong, empati, dan kreativitas.

Alvian mengatakan pernah ada seorang anak difabel yang di-bully saat belajar bersama. Guru kemudian membina karakter anak agar mau menghargai orang lain.

Opini Kompas) Kebudayaan Bangsa Indonesia

Dalam menjalankan aksinya, Alvian kerap menemui berbagai kejadian yang tidak terduga. Misalnya, saat upacara adat di Desa Lok Lahung, Alvian harus berdoa di tengah keramaian. Selama ini, penduduk melakukan upacara keagamaan Kaharingan atau kepercayaan tradisional suku Dayak.

Alvian terkesan melihat anak-anak membentuk lingkaran di sekelilingnya sehingga ia bisa berdoa dengan khusyuk. Sikap spontan anak membuktikan toleransi dan saling menghargai antar sesama.

Kepedulian Alvian terhadap dunia pendidikan dan anak-anak bermula dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tuanya sejak kecil. Sejak berusia empat tahun, Alvian sudah sering melihat orang tuanya menikah dan menikah dengan Mochammad Ardiansyah dan Devi Kesumawardani, terlibat dalam kegiatan sosial.

Dari pengalaman orang tuanya, Alvian memetik pelajaran bahwa yang terpenting bukanlah seberapa besar langkah yang kamu ambil, tapi bagaimana kamu bisa melakukan perubahan sekecil apapun. “Perubahan, bahkan yang kecil sekalipun, dapat berdampak pada orang lain,” katanya.

Masuk Kompas & Buku Potret Pendidikan Maluku (gerakan Maluku Gemar Membaca)

Terlibat dalam kegiatan organisasi dan pendidikan, Alvian kerap mendapat pandangan sepihak mengingat usianya yang masih muda. Namun, ia berhasil menunjukkan bahwa anak muda memiliki empati dan bisa turun tangan untuk menyelesaikan masalah. Kini, selain mengajar anak-anak di pedesaan, Alvian juga mengembangkan kursus pelatihan bagi teman sebaya yang ingin berperan di lingkungannya.

CEO Ashoka Bill Drayton menjelaskan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas perubahan, termasuk anak-anak dan remaja. “Ketika anak muda memiliki mimpi, membangun tim, dan mengubah dunia mereka, mereka akan mengubah aturan permainan selamanya.”

Contoh artikel koran tentang pendidikan, artikel internasional tentang pendidikan, koran tentang pendidikan, contoh artikel ilmiah tentang pendidikan, artikel di koran kompas, artikel pendidikan kompas, artikel tentang pendidikan pdf, artikel kompas tentang pendidikan, artikel koran kompas, contoh artikel koran kompas, koran kompas tentang pendidikan, artikel b.inggris tentang pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *